Roda perekonomian nasional memang berjalan stabil. Pertumbuhan pun masih ada, rupiah juga normal, harga sembako juga tak bergolak dan pemerintah yakin mampu menjaga arus kas keuangan negara.
Namun, kita bertanya-tanya atas label neoliberalisme yang ditunjukan kepada tim ekonomi yang dimotori oleh Boediono (Gubernur Bank Indonesia) dan Sri Mulyani (Menko Perekonomian/Menteri Keuangan). Selain keduanya disangkakan sebagai antek neoliberalisme, keduanya juga ditengarai membangun sistem ekonomi Indonesia agar tunduk pada perekonomian negara barat, khususnya Amerika Serikat.
Kritik semakin dalam kepada Boediono dan Sri Mulyani, karena kesejahteraan rakyat gagal ditingkatkan, daya saing ekonomi semakin merosot dan anggaran negara meningkat lebih dari tiga kali lipat. Selain itu, keduanya gemar menggunakan utang luar negeri dan domestik serta penjualan aset sebagai pembiayaan utama ekonomi.
Neoliberalisme sendiri adalah sebuah pola pemikiran (ideologi) yang mengutamakan pertumbuhan ekonomi serta beranggapan bahwa yang lemah harus dikorbankan supaya yang kuat bisa berkembang dengan bebas dan ekonomi nasional juga ikut berkembang. Selain itu, penganut neoliberal beranggapan bahwa pada akhirnya yang miskin akan ikut mendapat manfaat dari ekonomi yang berkembang secara kapitalistik.
Jika demikian, neoliberalisme sangat bertentangan dengan kebudayaan dan sistem kemasyarakatan Indonesia. Lagi pula, neoliberalisme telah memakan bangsanya sendiri, yakni terjadinya krisis finansial global yang membuat perekoniomian Amerika Serikat dan negara barat lainnya porak poranda serta berada di tepi jurang kebangkrutan. Jadi, wajarlah jika kita curiga dengan tim ekonomi itu. @
Sabtu, 09 Mei 2009
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
0 komentar:
Poskan Komentar