Kamis, 19 Februari 2009

Siapa Pembobol “Safe Deposit” BII?

Pembobolan safe deposit box BII membuktikan bahwa tempat penyimpan yang paling aman ternyata sudah tidak aman lagi. Bahkan pengelola safe deposit box itu menolak bertanggung jawab.

Kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan dunia perbankan, belakangan ini mulai memudar. Sebab setiap kali nasabah melakukan komplain, pihak bank kerap melayani sekenanya saja dan enggan untuk bertanggung-jawab.

Ironisnya, pemerintah termasuk para lembaga penegak hukum tidak dapat berbuat banyak dan hanya berdiam diri menyaksikan penderitaan para nasabah tersebut. Ketidak-adilan itu tentu menimbulkan pertanyaan apakah dunia perbankan kebal terhadap hukum sehingga seenaknya memperlakukan nasabah.

Kasus terakhir yang menyebabkan memudarnya kepercayaan itu yakni terjadinya pembobolan safe deposit box BII yang menyebabkan dua nasabah Bank BII mengalami kerugian milyaran rupiah.

Dalam kasus tersebut pihak Bank BII malah menolak bertanggung-jawab untuk mengganti kerugian kedua nasabah tersebut. Padahal mereka telah menjadi korban pembobolan
Mereka menjadi korban setelah tempat penyimpanan barang berharga yang disimpan di safe deposit box BII lantai dasar gedung Bank BII, Jalan Thamrin Menteng, Jakarta Pusat dibobol pencuri.

Akibat kejadian itu, salah seorang nasabah dua nasabah bernama Izwar Manawi dan Ivon Sutanto kehilangan batu mulia dan sejumlah emas dengan total kerugian sekitar Rp 5 miliar.

Kasus ini menjadi panjang setelah pihak BII secara terang-terangan menolak untuk bertanggung-jawab atas hilangnya barang kedua nasabahnya dan dengan sekenanya mereka mengatakan alasan penolakan itu karena sudah diatur dalam kesepakatan sewa safe deposit box.

Salah satu bukti bahwa pihak perbankan kebal terhadap hukum terlihat saat Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Jalan Gajah Mada, Jakarta, menggelar sidang perdana kasus tersebut, Kamis (5/2), siang.

Sidang dengan agenda pembacaan gugatan yang seharusnya dimulai pada pukul 11:00 WIB, terpaksa ditunda sampai pukul 14:40 WIB karena pihak tergugat yakni Bank BII tidak kunjung datang ke ruang sidang PN Jakarta Pusat.

Dalam gugatannya, Iswar menuntut Bank BII agar membayar ganti rugi sebesar Rp 5 miliar, tuntutan itu setara dengan barang yang hilang dari safe deposit box BII.
Namun, oleh Ketua Majelis Hakim, Panusunan Harapap yang memimpin persidangan menunda sidang sampai minggu depan dengan agenda yang sama, karena tergugat tidak kunjung datang

Mendengar putusan itu, pihak penggugat yakni Izwar Manawi dan Ivone Susanto yang merupakan korban dalam kasus tersebut terpaksa harus mengurut dada. Oleh Majelis Hakim, mereka diharuskan menunggu sampai minggu depan dimulainya persidangan ke dua.

Usai sidang perdana tersebut, kuasa hukum penggugat, John K Aziz menyebutkan tetap akan meminta tanggung-jawab pihak bank BII sebab barang-barang kliennya hilang akibat rendahnya kualitas pengamanan BII

“Safe deposit box BII sangat jelek mutunya, begitu juga dalam hal system dan pengawasannya juga sangat lemah sehingga mudah dibobol,” kata John sambil menunjukkan sejumlah foto bukti pembobolan kepada wartawan.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, lanjut dia, safe deposit box BII sangat mudah dibuka dengan obeng. Terlihat ada enam titik bekas obeng dan secara kasat mata menunjukkan bekas dibobol orang.

Menurut John Aziz, Bank BII telah melanggar hukum Kitab Undang-undang Hukum Perdata Nomor 1365. Bank BII tidak mampu melindungi barang nasabah, tetapi membiarkan pembobolan, pengrusakan terhadap safe deposit bos klien kami.

“Gugatan ganti-rugi ini bukan karena klien kami ingkar janji atau wanpretasi atas kesepakatan yang telah dibuat. Tetapi karena Bank BII telah lalai melindungi barang kliennya termasuk barang nasabah lainnya yang juga ikut hilang. Selama ini Bank BII menyanggupi menjaga barang berharga nasabah dengan menyediakan safe deposit box, ternyata tidak aman dan dibobol” tegas John sambil menyebutkan Bank BII telah melakukan pembohongan terhadap nasabah.

Untuk gugatan ganti rugi material masih kata John, kami tegaskan sebesar Rp 5 miliar, sementara inmaterial sebesar Rp 10 miliar.

Kasus pembobolan safe deposit box BII itu terjadi pada awal Desember 2008 lalu, dalam kasus tersebut sedikitnya delapan nasabah melaporkan kehilangan barang-barang berharga.

Laporan kehilangan itu tidak hanya terjadi di kantor pusat Bank BII Jalan Thamrin, Menteng Jakarta Pusat, tetapi dikantor cabang yang berlokasi di Sunter Nirwana juga ikut hilang. Total kerugian nasabah mencapai Rp 10 miliar.

Dalam pemeriksaan itu, pihak Kepolisian sedikit mengalami kesulitan sebab pihak Bank BII tidak mau diajak bekerja-sama untuk mengungkap kasus pembobolan tersebut.
“Mereka sangat susah untuk diajak kerjasama, sehingga kami kesulitan untuk mengungkap pelaku pembobolan tersebut,” kata Kasatreskrim Polres Jakarta Pusat, Komisaris Suwondo

Menurut Komisaris itu, akibat tertutupnya pihak Bank BII, dari tiga kasus yang sedang kami tangani itu satupun belum ada yang terungkap. Bahkan pihak Bank BII terkesan menutup-nutupi kasus tersebut, selain itu kami juga sulit untuk mencari saksi yang melihat kejadian itu.

“Apalagi pembobolan itu dilakukan diruangan tertutup yang tidak boleh dimasuk sembarang orang. Sebenarnya mereka memiliki data informasi siapa saja yang pernah masuk ke sana tetapi pihak Bank BII enggan menjelaskannya, “ kata Suwondo.
Tertutupnya mereka, masih kata Suwondo membuat kami curiga terhadap keterlibatan orang dalam yang ikut terlibat dalam pembobolan tersebut.

Kecurigaan serupa juga dikatakan John Aziz, kuasa hukum penggugat dengan menyebutkan bahwa sipembobol safe deposit box Bank BII itu adalah orang-orang yang memiliki akses masuk ke dalam ruangan safe deposit box Bank BII. “Saya yakin, bisa orang dalam atau pemilik safe deposit box,” kata John

Selain itu, Bank BII juga memiliki rekaman kamera CCTV yang berfungsi mengawasi pengunjung bank tersebut. Dari kamera itu, seharusnya bisa ditelusuri siapa-siapa saja yang datang masuk ke bank dan masuk keruangan kotak deposit pada saat sebelum terjadinya pembobolan.

“Namun, pihak Bank BII, menutup-nutupi hasil rekaman itu, sehingga menyulitkan polisi untuk melakukan penyelidikan. Hal ini menguatkan kami bahwa orang dalam ikut terlibat, tegasnya.

Para penyidik Polres Jakarta Pusat mengatakan dalam kasus tersebut pihak Bank BII sempat tidak ingin melaporkan langsung kasus pembobolan itu ke polisi.
“Kalau tidak nasabah yang melapor, pihak bank mungkin tidak pernah akan melapor,” ujar seorang petugas, tanpa mau disebut namanya.

Bahkan sat polisi melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) sejumlah orang bank berusaha menghalang-halangi polisi.

Sementara pihak Bank BII membantah tuduhan yang menyebutkan mereka tidak koperatif dan selalu menghalang-halangi polisi yang melakukan pemeriksaan kasus pembobolan kota deposit Bank BII.

"Kebijakan kita mendukung sepenuhnya investigasi yang dilakukan oleh polisi. Kami juga ingin kasus ini cepat terungkap," elak Juru Bicara Bank BII Esty Nugrahaeni saat dihubungi wartawan, pada kejadian itu.

Esty malah mengatakan bahwa pihaknya tetap memberikan semua data yang diminta oleh polisi. "Namun jika bentrok dengan kerahasiaan bank saya tidak tahu," ujarnya.
Mengenai kasus-kasus pembobolan yang terjadi tahun lalu, Esty mengatakan pihaknya sedang menunggu investigasi dari polisi selesai. "Kami juga melakukan investigasi internal. Tapi hasilnya saya juga belum tahu," mangontang silitonga

1 komentar:

cutesandy mengatakan...

kalo menurut saya yg paling harus di salah kan itu pihak bank bukan para pelaku ,kok tempat yg di klaim paling aman bisa sampai terjadi hal seperti itu .
kalo para pelaku si karena ada kesempatan bukan karena ada niat .

itu pihak bank harus bertanggung jawab penuh atas kejadian ini .

ini sebuah kelalaian keamanan pihak bank .

kalo para pelaku si wa acungin jempol bukan karena kejahatan nya tapi kok bisa ampe kepikiran bobol sdb .caranya itu lo gmn ? bisa ampe mulus begtu ya .