Senin, 01 Desember 2008

Jejak Rekam Sang Makelar

Suryo Tan adalah teman muda mantan Jaksa Agung MA Rachman. Itu sebab, dia bebas main proyek di Kejaksaan Agung.

Laki-laki berumur 46 tahun ini punya nama asli Chen Cia Fu, yang artinya rumah rukun penuh keberuntungan. Pertalian keluarga Tan dengan MA Rachman (mantan Jaksa Agung) bermula di Medan. Saat itu, sekitar 1986, Rachman bertugas di Medan sebagai Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Sumatera Utara.

Ayahnya lantas mengenalkan Suryo kepada Rachman pada tahun 1999. Jalinan persahabatan ini pula yang membuat pria lulusan sarjana komputer Universitas Monash, Melbourne, Australia merelakan Chairunnisa putri Rachman ini adalah seorang dokter gigi, menggunakan kantornya di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, sebagai ruang praktek.

Toh persahabatan ini kemudian memicu banyak tanda tanya saat beberapa kalangan menyebut nama Suryo sebagai makelar di Kejaksaan Agung. Pengusaha yang sering bolak-balik ke Singapura ini bahkan disebutkan mampu menentukan dan mempengaruhi jalannya berbagai kasus di kejaksaan. Kasus Akbar Tandjung dan Johannes Kotjo disebut-sebut sebagai contoh perkara yang ditangani Suryo.

Efek domino dari hubungan baik di atas membuat Suryo dituding kecipratan proyek-proyek kejaksaan. Misalnya, Sistem Informasi Manajemen Kejaksaan Agung RI, sebuah proyek komputerisasi di lembaga tersebut senilai Rp 2 miliar.

Dalam tender itu, keluar sebagai pemenang adalah perusahaan Sitre. Padahal Sainco, pesaingnya, mengajukan harga dan produk yang, kata sebuah sumber, lebih baik. Beberapa pejabat dan sejumlah sumber mengaku pernah ditawari Suryo Tan untuk mengurus perkara, tender, atau segala yang berhubungan dengan kejaksaan. Tentunya dengan fee khusus.

Di Kejaksaan Agung, dia disebut-sebut sebagai calo perkara ulung dan "orang dekat" MA. Rachman. Suryo dikenal juga sebagai Darren Chen Jia Fu, namanya sebagai warga negara Singapura. Sebelumnya, sampai tahun 1997, ia berstatus warga negara Indonesia.

Tak diketahui jelas alasan Suryo pergi ke Singapura, padahal saat itu ia punya bisnis bagus di sini. Berkongsi dengan Setya Novanto dan Johannes Kotjo, ia mendapat izin monopoli pembuatan surat izin mengemudi (SIM) dari Markas Besar Kepolisian RI.
Ia kembali ke Indonesia pada tahun 2000, kabarnya karena bisnisnya hancur di Singapura. Lalu ia membuka lahan bisnis di bidang komputer dengan bendera PT Indonesia Vehicle Computer System dan berkantor di Jalan Tanah Abang II, Jakarta Pusat.

Husin Tanoto, ayah Suryo, adalah kolega dekat Rachman ketika yang bersangkutan berdinas di Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara di Medan. "Kemesraan" ini diteruskan Suryo. Begitu dekatnya sehingga ada kabar bahwa Suryo berani mengatasnamakan Rachman untuk mengurus fee Rp 2,5 miliar dari pengusaha Johannes Kotjo.

Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sjamsir Siregar suatu ketika juga pernah menyebutkan, pihaknya sudah mendapatkan informasi bahwa Suryo Tan dan Artalyta terdeteksi sering bertamu ke rumah dinas Kapolri di Jalan Pattimura, Jakarta Selatan.
Tak kalah menarik, pengakuan ajudan menteri senior dalam Kabinet Indonesia Bersatu. Ia mengaku pernah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Suryo Tan ada dalam rombongan Jenderal Sutanto sekeluarga saat berumroh pada 2006.

Sumber di Bareskrim Polri menceritakan bahwa Suryo Tan pernah masuk dan bertamu ke ruang kerja Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Kabareskrim) Komjen Bambang Hendarso Danuri pada 2007.

Tapi, jangan pernah mengira Suryo Tan bisa merayu atau menjebak BHD, panggilan Kabareskrim di kalangan wartawan. Sebab, kata sumber itu, Suryo Tan malah di-skak mat oleh BHD. "Anda boleh saja duduk di sini. Tapi, di mata saya, posisi Anda tetaplah seorang tersangka. Tidak lebih dari itu," kata sumber mengutip perkataan BHD. Artinya, Suryo Tan tak bergigi di kalangan Bareskrim Polri.

Bujuk rayu dan servis berlebihan dari markus bernama asli Darren Chen Jia Fu (nama yang dipilihnya semenjak jadi warga negara Singapura pada 1998) sungguh tak laku. Kabarnya, Suryo Tan tak berkutik dan tak berani unjuk gigi di kalangan perwira tinggi dan perwira menengah Bareskrim Polri.

Kelicikan Suryo Tan lainnya, ternyata dia dapat membuat berbagai dokumen “sah” dalam berbagai perkara alias pemalsuan. Tersebutkan, pada tgl 29 Desember 2006, Ketua RT 001/04 Sdr Husni K memberikan surat keterangan yang menyatakan bahwa Sdr Ahmad Syaiful Bukan warga di lingkungan RT 001, RW 04 Kelurahan Sangiang Jaya, Tangerang sesuai yang tercantum dalam KTP yang bersangkutan.

Nyatanya, penggunaan 2 buah KTP dengan nama yang berbeda tetapi pada saat yang bersamaan yang dilakukan oleh Sdr Suardi alias Sdr Ahmad Syaiful. Apalagi kedua nama tersebut hanya digunakan oleh Sdr Suryo Tan dalam berbagai tindakan hukum. Perlu diketahui, Sdr Suardi juga pernah ditahan di Mabes Polri dalam kasus Bank Global, yakni sebagai penanggung jawab money changer YSL yang telah menerima aliran dana dari Bank Global.

Kejati mendua
Namun, kuasa hukum PT StarCom Solusindo, Syamsul Djalal, punya cerita lain. Berlarut-larutnya penanganan kasus Suryo Tan karena sikap Kejati DKI terkesan mendua. "Ketika saya bertemu Kajati DKI (Andhi Nirwanto, red), beliau menjanjikan berkas perkara akan dilimpahkan ke pengadilan jika sudah lengkap. Tetapi Aspidum DKI minta saksi kunci yang sudah meninggal dunia, Ahmad Saiful, diperiksa lagi. Ini kan tidak mungkin," ujar Syamsu.

Mantan Jamintel Kejaksaan Agung, mengaku dirinya kuasa hukum korban sekaligus pelaksana wasiat dari almarhum Achmad Saiful, tersangka kasus yang sama sekaligus orang kepercayaan Suryo Tan. Dalam akta wasiat nomor 131, Achmad Saiful alias Suardi menyatakan bahwa Suryo Tan sengaja menginginkan dirinya meninggal dengan memerintahkannya bersembunyi di Samarinda. Persembunyian dilakukan untuk menghindari pemeriksaan di Polda Metro Jaya dan Mabes Polri karena Ahmad Saiful merupakan saksi kunci berbagai kejahatan yang dilakukan Suryo Tan.

"Padahal saya sedang menderita sakit jantung kronis sebagai akibat langsung dari tekanan Suryo Tan yang telah memaksa saya memberikan kesaksian dusta dan melakukan berbagai tindak pidana," kata Syamsu mengutip wasiat Achmad Saiful.

Karena itu, Syamsu selaku pelaksana wasiat menyatakan akan mencari Suryo Tan kemanapun dan menuntut secara perdata maupun pidana. Syamsu menambahkan, Suryo Tan selama ini memegang KTP Indonesia yang palsu, sebab dia adalah warga negara Singapura.

Kata Syamsu lagi, Suryo Tan dikenal licik dan pandai melobi pejabat tinggi negara untuk kepentingan pribadinya. "Ini terlihat dari beberapa perkara yang tidak diselesaikan oleh aparat hukum, meski telah hampir dua tahun dilaporkan ke Polda maupun Mabes Polri," ujarnya. Atas dasar itu, Syamsu pun mendesak Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri mengeluarkan surat cekal terhadap Suryo.sofyan hadi

Tidak ada komentar: